1.    Situs Kota Kapur
Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya (UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya).


Secara geografis, situs Kota Kapur merupakan dataran yang menghadap langsung ke selat Bangka. Situs itu dikelilingi oleh hutan rawa pantai di sebelah barat, utara, dan timurnya.

Pada situs Kota Kapur terdapat “benteng tanah” sepanjang kurang lebih satu setengah kilometer. Stratigrafi/pelapisan benteng tanah ini tebalnya lebih dari sepuluh meter dengan tinggi dua setengah meter. Di bawah tanah terdapat berbagai benda arkeologis, seperti sisa struktur bangunan candi, keramik Cina abad 9 – 12, patung Wisnu ber-kuluk (mitred Visnu) abad 5 – 7 bernilai sejarah yang belum terkuak.

Di lokasi ini Prasasti Kota Kapur ditemukan oleh J. K. van der Meulen, seorang pegawai pamong praja Sungai Selan, pada bulan Desember 1892 di Sungai Mendu desa Kota Kapur Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka. Penemuan ini mengilhami arkeolog dunia, George Coedes, untuk “menemukan” Sriwijaya. Selama ini perhatian orang terhadap prasasti Kota Kapur hanya dalam rangka pengungkapan mistri Sriwijaya saja. Belakangan diketahui bahwa di lokasi ini diduga pernah ada kerajaan Mo-ho-hsin.

Prasasti Kota Kapur berukuran tinggi 1,77 meter itu dengan tulisan Wenggi, terdiri dari 10 baris berisi 240 kata Melayu Kuno. Prof.Hendrik Kern menterjemah dan membahas prasasti itu pada tahun 1913. Terjemahan bebasnya berdasarkan terjemahan Inggris oleh Drs.Boechari dalam “An old Malay Inscription of Sriwijaya at Palas Pasemah (South Lampung)”, tanpa urutan baris, sebagai berikut:

… Engkau, seluruh dewa dewi, yang melindungi (kerajaan) Sriwijaya.

Juga Engkau, Dewa Sungai, dan seluruh roh yang menjadi dasar dari mantra kutukan ini.

Beberapa rakyat di dalam wilayah kerajaanku telah memberontak, (bersekutu dengan) para pemberontak, berbicara dengan para pemberontak, mendengarkan kata-kata para pemberontak, mengetahui para pemberontak, (yang tidak patuh dan) tunduk dan setia padaku dan pada mereka yang telah kutunjuk sebagai datu, (maka orang-orang seperti itu) dibinasakanlah (dengan kutukan)

Dan petua kerajaan Sriwijaya diperintahkan untuk menghancurkan mereka, dan mereka akan dihukum bersama suku dan keluarga mereka. Juga (seluruh) orang-orang berkelakuan jahat, (seperti mereka yang) meneluh orang lain, membuat orang sakit, membuat orang menjadi gila, menggunakan mantra-mantra, meracuni orang lain dengan upas dan tuba, dengan racun yang dibuat dari tumbuhan dan segala jenis tanaman merambat, meramu minyak-minyakan, mengguna-gunai orang lain dengan mantra-mantra, dan seterusnya, maka bagi mereka tertimpakanlah kesialan, digolongkan ke dalam dosa-dosa orang yang berperilaku amat buruk.

Namun jika mereka tunduk dan setia padaku dan pada mereka yang telah kutunjuk sebagai datu, maka dilimpahkanlah karunia pada usaha mereka juga pada suku dan keluarga mereka. Dan dikaruniakanlah keberhasilan, kemakmuran, kesehatan, keamanan dan kelebihan pada seluruh negeri mereka.

Tahun Saka berlalu 608 hari pertama paroterang bulan Waisaka, (28 Februari 686), tatkala kutukan dan sumpah ini dipahat, ketika tentara Sriwijaya berangkat menyerbu Tanah Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya.

2.     Pengembangan Produk Pariwisata
Situs Kota Kapur sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai objek pariwisata, baik pariwisata  budaya atau purbakala maupun pariwisata alam dan agro karena situs ini sangat penting untuk kajian arkeologis dan sejarah kerajaan Sriwijaya.

Keunikannya berupa benteng tanah sepanjang satu setengah kilometer lebih, candi yang sangat tua, kolong timah yang luas dikelilingi perbukitan, maupun sungai yang lepas ke Selat Bangka, hutan bakau yang asri serta udara pantai yang segar di sela-sela pohon durian raksasa merupakan daya tarik yang amat kuat untuk menyedot wisatawan nusantara maupun mancanegara.

3.     Pengembangan Aksesibilitas
Saat ini untuk menuju situs Kota Kapur dengan alat transportasi darat hanya dapat ditempuh melalui satu jalan dari Pangkalpinang, melintasi desa Terak, Rukam, dan Penagan. Kondisi jalannya masih memprihatinkan. Jika lokasi ini akan dikembangkan sebagai objek pariwisata, perlu dipertimbangkan dalam pembangunan jalan dan jembatan, antara lain:

1.        Rehabilitasi dan pelebaran jalan yang sudah ada (dari arah Pangkalpinang);

2.        Pembukaan ruas jalan baru ke arah Petaling (ibu kota  Kecamatan Mendo Barat) melalui desa    Air Pandan;

3.        Pembangunan jembatan untuk melintasi sungai Menduk yang membelah desa Kota Kapur dan   desa Air Pandan.

4.     Penataan Ruang
Kawasan situs Kota Kapur yang luasnya lebih kurang 210 ha itu perlu ditata secermat mungkin supaya pengembangannya tidak menyimpang dari kerangka arkeologis, kesejarahan dan keseimbangan ekosistem.

Pada Peta Situasi Situs Kota Kapur yang dibuat Tim Peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 1994, digambarkan enam sektor yang mengandung data arkeologi dengan karakteristik berbeda.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat direncanakan penataan ruang untuk pembangunan objek-objek pariwisata sejarah atau purbakala, meliputi:

a.    Taman Purbakala Kerajaan Kota Kapur (Mo-ho-hsin), yang terdiri dari misalnya:

1)   Rekonstruksi bagunan candi;

2)   Gedung Museum, untuk menyimpan koleksi arkeologi;

3)   Gedung Prasasti, untuk menyimpan replika Prasasti Kota Kapur;

4)   Gedung Serba Guna, untuk keperluan pameran, pergelaran kesenian, seminar, dan sebagainya;

5)   Kompleks permukiman kuno;

b. Taman Kelekak, berisi tanaman buah-buahan lokal, seperti durian, cempedak, duku, puren, sentol, dan sebagainya.

c. Taman hutan bakau;                                                                                       

5.       Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia
Apabila Pemerintah Daerah berkeinginan memajukan pariwisata budaya, langkah awal yang perlu dilakukan adalah dengan membentuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Dinas ini sekurang-kurangnya terdiri dari Bidang Kebudayaan dan Bidang Pariwisata. Bidang Kebudayaan terdiri dari Seksi Kesenian dan Bahasa serta Seksi Sejarah, Purbakala dan Nilai Budaya. Sedangkan Bidang Pariwisata terdiri dari Seksi Pengembangan Produk Pariwisata dan Seksi Pemasaran Pariwisata.

Untuk mengelola objek pariwisata purbakala diperlukan personal yang peduli terhadap kebudayaan, sejarah dan kepurbakalaan. Dalam penerimaan pegawai baru dapat direncanakan formasi bagi yang berpendidikan arkeologi dan antropologi. Sebelum rekrutmen pegawai baru, Pemda dapat memberi kesempatan kepada pegawai yang ada untuk magang di instansi pengelola kebudayaan, seperti Pusat Arkeologi Nasional, Museum Nasional, Balai Arkeologi, Taman Budaya, dan sebagainya.

6.  Implementasi Program
Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom, telah mengatur kewenangan masing-masing di bidang kebudayaan. Sedangkan kewenangan Pemerintah Kabupaten telah diakui Menteri Dalam Negeri dalam Keputusan Nomor 130-67 Tahun 2002 tanggal 20 Februari 2002 tentang Pengakuan Kewenangan Kabupaten dan Kota.

Berdasarkan kewenangan masing-masing tingkatan pemerintah tersebut, pengembangan situs Kota Kapur dapat dilakukan oleh:

a.       Pemerintah Pusat: melanjutkan penelitian arkeologis, pembuatan replika Prasasti Kota Kapur, dan merekonstruksi bangunan candi.

b.      Pemerintah Provinsi: membangun infrastruktur dasar dan pembangunan serta pengelolaan museum.

c.       Pemerintah Kabupaten: menetapkan tapak kawasan wisata, membangun sarana dan prasarana pendukung lainnya, termasuk pemagaran lokasi.

Mengingat dana pemerintah dan pemerintah daerah untuk pembangunan bidang kebudayaan sangat terbatas, pelaksanaan program ini dapat dilakukan secara bertahap, yaitu:

1.   Tahap pertama, selama lima tahun pertama, dengan kegiatan:
a.    Pemerintah Daerah menetapkan lokasi situs Kota Kapur sebagai tapak kawasan pariwisata, pembebasan lahan, dan melindunginya dari gangguan manusia yang tidak bertanggung jawab dengan membangun pagar keliling;

b.    Melanjutkan penelitian/penggalian di lokasi-lokasi yang diduga menyimpan informasi arkeologis;

c.    Penyusunan tata ruang kawasan wisata budaya;

d.    Membangun objek pariwisata sejarah/purbakala tahap awal berupa pembuatan replika prasasti Kota Kapur dan bangunan tempat penyimpanannya.

2.      Tahap kedua, dimulai pada kurun waktu lima tahun kedua, dengan kegiatan:

a. Pemugaran sisa bangunan candi dan/atau bangunan lainnya yang mungkin ditemukan dalam penelitian di kemudian hari. Kegiatan ini mungkin berlangsung sangat lama, lebih dari sepuluh tahun.

b.    Pembangunan museum.

3.      Tahap ketiga, selama lima tahun ketiga, dengan kegiatan meminta pengembalian benda-benda arkeologis yang disimpan di Museum Nasional untuk disimpan di lokasi situs.

4.      Tahap keempat, pada masa lima tahun keempat, dengan kegiatan menata kompleks Kota Kapur menjadi sebuah objek pariwisata yang bernilai tinggi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, sejarah, kebudayaan, dan hiburan.

Tahap kelima, pada masa lima tahun kelima, pembangunan prasarana penunjang, seperti gedung serba guna dan kompleks permukiman kuno, dan lain-lain.
 
 
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa memiliki beragam kebudayaan. Salah satunya terdapat di Desa Tempilang Kecamatan Tempilang Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sekitar 70 km dari kota Pangkalpinang.

Di desa yang berpenduduk mayoritas pemeluk agama Islam ini, secara turun-temurun setiap tahun dilaksanakan upacara tradisional ”Perang Ketupat” pada pertengahan bulan Sya'ban. Menurut cerita nenek moyang, upacara tradisional ini berasal dari zaman Urang Lom, yaitu suatu masa masyarakatnya belum mengenal agama.

Desa Tempilang dikaruniai pantai yang indah dengan hamparan pasir berwarna kuning, sehingga dinamakan pantai "Pasir Kuning". Di samping itu Desa Tempilang juga dikenal sebagai desa walet karena banyaknya burung walet bersarang di desa ini. Di pusat Desa Tempilang banyak dibangun gedung-gedung tinggi sebagai tempat bersarang burung walet.

Sesuai kandungan potensi alam tersebut, Desa Tempilang dijuluki juga sebagai Desa "WALET", singkatan dari Wisata Alam Lestari Elok dan Tertib.

Sejalan dengan kehidupan masyarakat Desa Tempilang sebagai nelayan dan petani, setiap tahun dilaksanakan upacara tradisional "Taber Kampong" pada pertengahan bulan Sya'ban tahun Hijriyah. Upacara ini terdiri dari lima tahapan.

Pertama, Penimbongan, yaitu pemberian makanan kepada makhluk halus yang dipercayai bermukim di darat.

Kedua, Ngancak, yaitu pemberian makanan kepada makhluk halus yang dipercayai bermukim di laut.

Ketiga, Perang Ketupat, kegiatan simbolis untuk memerangi kejahatan makhluk halus yang mengganggu aktivitas warga masyarakat, baik di darat maupun di laut. Tahapan ini merupakan puncak kegiatan, yang mengundang puluhan ribu penonton dari berbagai pelosok Pulau Bangka. Sekarang acara inilah yang paling dikenal masyarakat dari luar Desa Tempilang. Panitia desa mengemasnya menjadi sebuah tontonan budaya, dipadu dengan pertujukan kesenian modern. Di sini fungsi budaya diperluas menjadi sebagai tuntunan dan tontonan.

Keempat, Nganyot Perae (menghanyutkan perahu). Kegiatan menghanyutkan sebuah perahu kecil, sebagai simbol memulangkan tamu-tamu makhluk halus yang datang dari luar Desa Tempilang. 

Kelima, Taber Kampong, sebagai penutup seluruh proses upacara. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk membuang tasak besek (penyakit kulit) dan buyung sumbang (perzinahan). Para petugas taber berkeliling kampung dari rumah ke rumah melakukan penaberan terhadap bangunan dan para penghuninya.

Dalam menyambut upacara "Perang Ketupat", yang bersamaan waktunya dengan "Sedekah Ruwah", masyarakat Tempilang melakukan berbagai persiapan seperti layaknya menyambut hari raya. Untuk acara "Sedekah Ruwah" sendiri, masyarakat Desa Tempilang merayakannya lebih meriah daripada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, karena pada hari itu para kerabat yang merantau ke luar desa banyak yang pulang untuk bersilaturahim dengan keluarga di Desa Tempilang, sekaligus berziarah kubur para leluhur.

Sehari sebelum upacara Perang Ketupat dilaksanakan, para dukun menyiapkan perlengkapan upacara, terdiri dari penimbong (rumah-rumahan terbuat dari kayu Mentangor), batu taber, dan perlengkapan ngancak.

Bahan-bahan "batu taber" terdiri dari mata bonglai, mata kunyet, mata cekor, dan mata tebu item, serta daun karamuse. Bahan-bahan tersebut kemudian ditumbuk sampai halus. Selanjutnya dicampur dengan tepung beras yang sudah disiapkan sebelumnya.

Perlengkapan "Ngancak" yang disajikan dalam dulang terdiri dari: 1 ekor ayam panggang; 2 piring buk pulot (nasi ketan); 2 butir telur ayam rebus; 1 piring bubur mirah dan bubur puteh; 1 gelas kopi susu; 1 gelas teh manis; 1 gelas kopi pahit; 4 batang rokok daun nipah; 4 buah pinang kering; 4 buah ketiping mirah dan ketiping puteh; 4 keping gula kabung;  4 buah lilin putih; 3 sisir pisang ambon dan pisang rejang; 1 potong kemenyan; dan 1 piring bertih padi.

Pada malam hari dilaksanakan upacara penimbongan. Kegiatan ini di pusatkan di halaman rumah salah seorang dukun, di sekitar kawasan pantai Pasir Kuning.

Sebelum penimbongan, terlebih dahulu digelar tarian Campak untuk mengasuh batu taber. Dulu, tarian ini sering digelar untuk menghibur masyarakat pada acara-acara perkawinan, peringatan hari-hari besar nasional, dan sebagainya. Namun kini tarian Campak nyaris tercampakkan, tergilas budaya modern.

Kegiatan penimbongan segera dilaksanakan. Para panitia dan dukun menyiapkan segala perlengkapan penimbongan. Sesaji yang akan digunakan juga sebagai perlengkapan Ngancak ditaruh di atas penimbong.

Para dukun melakukan pemanggilan makhluk-makhluk halus penghuni wilayah darat untuk diberikan makanan. Tiga orang dukun secara bergantian membacakan mantra-mantra. Mereka memanggil makhluk-makhluk halus penghuni wilayah darat, antara lain: Akek Simpai, Akek Sekerincing Besi, Akek Bejanggut Kawat, Putri Urai Emas, Putri Lepek Panden, dan Datuk Segenter Alam yang bermukim di Gunung Panden; serta Sumedang Jati Suara dan Akek Kebudin, penghuni Gunung Maras. Makhluk-makhluk halus ini, menurut para dukun, termasuk makhluk halus yang baik-baik. 'Mereka' ini dipercaya sebagai penjaga kampung terhadap serangan makhluk jahat dari luar Desa Tempilang. 

Makhluk-makhluk halus yang dianggap sedang 'menyantap' hidangan,  dihibur dengan tarian Serimbang. Enam orang gadis cantik dengan gerak gemulai mengelilingi arena penimbongan, diiringi lagu Timang Burong. Selesai tarian Serimbang, upacara penimbongan dilanjutkan dengan tarian Kedidi oleh dua orang dukun. Dalam tarian Kedidi diperagakan gerakan silat menirukan gerakan burung kedidi.

Upacara penimbongan ditutup dengan tarian Seramo. Tarian ini menggambarkan pertempuran habis-habisan antara kebenaran melawan kejahatan. Pada tarian yang berlangsung sangat melelahkan itu tergambar betapa sulitnya berjuang melawan kejahatan. Melalui berbagai bentuknya yang menjelma dalam kehidupan manusia, kekuatan kejahatan sering kali tampak lebih dominan daripada kebaikan. Bahkan pada kasus-kasus tertentu kebaikan mengalami kekalahan atau harus dikalahkan demi kepentingan pribadi dan atau golongan.

Ritual ”Taber Kampong” dilanjutkan dengan acara Ngancak, yaitu pemberian makanan kepada makhluk-makhluk halus yang bermukim di laut, terutama siluman buaya.

Kegiatan ini dilakukan menjelang tengah malam, bertempat di Tanjung Raya. Sekitar pukul setengah sebelas malam Rombongan dukun, terdiri dari dua orang dukun laut dan satu orang dukun darat berangkat dari tempat penimbongan menuju batu taber di Tanjung Raya. Sinar bulan samar-samar mengiringi rombongan dukun menyusuri jalan setapak dan mendaki bukit batu terjal.

Deburan ombak berpacu susul-menyusul menampar bebatuan, seolah bersorak menyambut rombongan dukun yang sedang sibuk mempersiapkan perlengkapan ngancak. Dengan diterangi empat batang lilin para dukun menata hidangan, seperti pada saat penimbongan. 

Pada upacara ngancak ini dukun laut yang memimpin. Dukun ini memulai membacakan mantra-mantra untuk memanggil makhluk halus penghuni laut. Menurut Sang Dukun, nama-nama makhluk laut yang dipanggil tidak boleh dipublikasikan, karena dikhawatirkan akan dipanggil oleh orang-orang yang berniat jahat.

Upacara ngancak dilakukan dengan tujuan agar makhluk-makhluk halus tersebut tetap setia menjaga wilayah perairan Desa Tempilang terhadap gangguan makhluk laut dari luar desa, sehingga para nelayan Desa Tempilang aman melaksanakan aktivitas di laut.

Setiap jenis makanan dimantrai, terutama makanan yang paling disukai siluman buaya, yakni buk pulot, telur rebus, dan pisang rejang. Pemantraan  setiap jenis makanan dilakukan sambil memutar-mutar makanan itu di atas asap kemenyan. Kedua orang dukun laut melakukannya bergantian. Setelah selesai memantrai makanan oleh dukun laut, dukun darat memantrai air taber yang akan digunakan untuk menaber laut.

Selanjutnya ketiga orang dukun menuruni tangga batu menuju ke arah laut. Dua orang dukun laut melepaskan buk pulot, telur rebus, pisang rejang dan beras kunyit ke laut. Sedangkan dukun darat melakukan penaberan laut, dengan cara memercikkan air taber menggunakan bunga pinang ke air laut. Acara ngancak selesai menjelang pukul dua belas malam.

Keesokan harinya, saat yang ditunggu-tunggu tiba, yaitu "Perang Ketupat". Sejak pagi hari puluhan ribu orang, baik dari Desa Tempilang sendiri maupun berasal dari seluruh pelosok Pulau Bangka, berbondong-bondong menuju pantai Pasir Kuning.

Meskipun demikian acara Perang Ketupat baru akan dimulai setelah Bupati  sebagai orang yang paling dihormati di wilayah ini berada di lokasi upacara. Setelah mendengar pengarahan Bupati, "Perang Ketupat" segera berkobar.

Pasukan dibagi dua kelompok. Masing-masing satu kelompok mewakili wilayah darat dan kelompok lainnya mewakili wilayah laut. Di tengah arena disediakan 'senjata' berupa ratusan buah ketupat. Masing-masing anggota kelompok bebas merebut ketupat yang tersedia.

Peperangan dimulai dengan diawali dukun darat 'menembak' dukun laut. Setelah kedua dukun memberi aba-aba perang dimulai, masing-masing anggota kelompok menyerbu tumpukan ketupat untuk melempar pihak lawan.

Pertempuran sengit tak terhindarkan. Peperangan yang berlangsung hanya sekitar tiga sampai lima menit ini dimaksudkan untuk memerangi makhluk-makhluk halus yang jahat dan suka mengganggu masyarakat.

Selesai "Perang Ketupat" upacara tradisional ini dilanjutkan dengan Nganyot Perae atau menghanyutkan perahu. Sebuah perahu kecil berisi bahan makanan, seperti ketupat, lepet dan lauk-pauk, dihanyutkan dukun ke laut. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memulangkan tamu-tamu makhluk halus yang datang ke Desa Tempilang, terutama yang bermaksud jahat, agar tidak mengganggu masyarakat.

Setelah rangkaian upacara "Perang Ketupat" selesai, tokoh adat Tempilang mengumumkan pantangan-pantangan bagi seluruh masyarakat yang tinggal di Desa Tempilang selama tiga hari ke depan, terdiri dari empat pantangan di darat, dan tujuh pantangan di laut.Bagi masyarakat yang melanggar pantangan di darat akan dikenakan sanksi oleh dukun darat, yaitu membayar uang 40 ringgit dan satu dulang kue. Bagi yang melanggar pantangan di laut dikenakan sanksi oleh dukun laut, berupa kewajiban membayar denda 12 ringgit serta bubur merah dan bubur putih sebanyak 40 dulang. Selain itu diyakini juga alam akan menghukumnya dalam bentuk kecelakaan di laut.

Sebagai penutup upacara tradisional “Taber Kampong”, para dukun berkeliling kampung, dari pintu ke pintu memercikkan air taber. Bagi yang percaya, ada juga penghuni rumah yang meminta perlengkapan taber, seperti air taber dan bunga pinang (alat untuk menaber) untuk digantung di atas pintu rumah, dengan harapan rumahnya terhindar dari bencana selama setahun ke depan.

                                                                                 Sungailiat, 5 Desember 2009

Lampiran:
A.  Pantangan di darat:
1.   Berkelahi dalam rumah tangga;
2.   Berkerubung kain sarung (betukoi sangkot) di tengah kampung;
3.   Menjemur kain di pagar;
4.   Bersiul;

B.  Pantangan di laut:
1.   Menangkap ikan laut dengan cara apapun;
2.   Mencuci panci/kuali di sungai/laut;
3.   Mencuci perlengkapan orang melahirkan di sungai/laut;

4.   Bejuntai kaki di sungai/laut;

5.   Memukul kain ke air;

6.   Mencuci daging ayam di air sungai/laut;

        7.   Mencuci kelambu di sungai/laut.
 
 
Picture
Kebudayaan sebagai Tuntunan dan Tontonan
Oleh: surtam@amin

Membicarakan masalah kebudayaan selalu mengandung dan mengundang polemik. Karena jangkauannya yang begitu luas, setiap pendapat baik mengenai esensi maupun instansi yang mengurus kebudayaan tidak pernah memuaskan semua pihak. Tetapi semua orang sepakat bahwa tak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan, dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya.

Kebudayaan merupakan sederetan sistem pengetahuan yang dimiliki bersama, perangai-perangai, kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, peraturan-peraturan, dan simbol-simbol yang berkaitan dengan tujuan seluruh anggota masyarakat yang berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai “semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat”.

Dipandang dari wujudnya, menurut Koentjaraningrat, kebudayaan itu mempunyai paling sedikit tiga wujud, yaitu  (1) wujud sebagai suatu kompleks gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan-peraturan; (2) wujud sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat; dan (3) wujud sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Ketiga wujud kebudayaan tersebut dalam kenyataan kehidupan masyarakat tak terpisah satu dengan lainnya. Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan memberi arah kepada tindakan dan karya manusia. Baik pikiran-pikiran dan ide-ide maupun tindakan dan karya manusia menghasilkan benda-benda kebudayaan fisik. Sebaliknya, kebudayaan fisik membentuk suatu lingkungan hidup tertentu sehingga mempengaruhi pula pola-pola perbuatan dan cara berpikirnya.

Sedangkan bila dikaji dari segi unsurnya, setiap kebudayaan memiliki tujuh unsur pokok, yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem mata pencaharian hidup atau ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi, dan kesenian. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kebudayaan adalah nilai-nilai dan gagasan vital yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Kalau demikian, dalam penyelenggaraan pemerintahan negara seolah-olah cukup dilaksanakan oleh satu Departemen Kebudayaan saja. Tetapi karena luasnya cakupan urusan kebudayaan itu, dalam kenyataannya tidak mungkin demikian. Urusan ekonomi, politik, pendidikan, agama, dan sebagainya dilaksanakan oleh departemen tersendiri. Direktorat Jenderal Kebudayaan sendiri, baik ketika tergabung dalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan maupun dalam Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, hanya mengurus masalah-masalah kesenian, nilai budaya, sejarah, dan kepurbakalaan. 

Selama ini instansi yang mengurus kebudayaan sering dianggap sebagai “Dinas Pengeluaran” saja dan dirasakan sangat membebani anggaran daerah. Hasil kerja instansi kebudayaan seringkali hanya berfungsi sebagai “arsip”, tidak dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat.

Program-program kesenian belum menumbuhkan kreativitas dan kemandirian. Khususnya di Kepulauan Bangka Belitung, para seniman sering tergantung dari bantuan pemerintah. Banyak seniman merasa bangga ketika proposalnya untuk aktivitas kesenian dikabulkan Pemerintah Daerah (Pemda). Hampir setiap tahun Pemda mengirimkan kontingen kesenian ke luar negeri dengan membebani APBD. Langkah ini baru menghasilkan seniman-seniman proposal, bukan seniman profesional.

Berbeda dengan seniman Bali dan Jawa, seperti Sardono W. Kusumo, Jaduk Ferianto, dan lain-lain misalnya, mereka melawat ke Eropa, Amerika dan sebagainya atas biaya pihak pengundang karena karya-karya mereka dianggap bernilai tinggi. 

Sebenarnya semua orang sepakat bahwa kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Hasil karya masyarakat, yang menimbulkan teknologi mempunyai kegunaan utama dalam melindungi masyarakat terhadap lingkungan alamnya. Hasil rasa, berupa norma-norma dan nilai-nilai kemasyarakatan sangat perlu untuk mewujudkan tata tertib dalam pergaulan kemasyarakatan. Sedangkan hasil cipta berguna untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan keinginan kepada orang lain, berupa misalnya filsafat, ilmu pengetahuan, kesenian, kesusastraan, dan sebagainya.

Sebagai sebuah sistem, kebudayaan tidak pernah berhenti. Ia senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan, baik karena dorongan-dorongan dari dalam maupun dorongan dari luar. Interaksi antara komponen-komponen budaya dapat melahirkan bentuk-bentuk simbol baru. Oleh karena itu tidak mungkin kebudayaan lama dapat dipertahankan secara mutlak dan murni seluruhnya, baik kebudayaan jasmaniah (material culture) maupun kebudayaan rohaniah (spiritual culture). Hanya unsur-unsur kebudayaan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakatlah yang dapat bertahan.

Salah satu contoh, kerito surong hasil teknologi masa lalu sebagai alat transportasi untuk mengangkut hasil bumi masyarakat, sekarang tidak mungkin lagi dipaksakan untuk digunakan dengan alasan pelestarian kebudayaan daerah. Demikian pula dengan kebudayaan rohaniah seperti tradisi menyerang kelompok lain ketika anggota kelompoknya merasa terganggu oleh salah satu anggota kelompok lain tersebut, tidak layak lagi dipertahankan karena kita sudah memiliki sistem hukum pidana.

Sebaliknya  unsur-unsur kebudayaan tertentu, seperti konsepsi gotong royong dalam masyarakat Indonesia masih tetap relevan untuk dipertahankan, karena pada hakikatnya manusia itu tidak dapat hidup tanpa bekerja sama dengan orang lain. Dalam implementasinya masih perlu terus dibina, supaya budaya ini benar-benar berfungsi sebagai kekuatan pendorong pembangunan masyarakat. Budaya ini juga dapat mengurangi sikap ketergantungan kepada pemerintah. Pada masyarakat tertentu, pembangunan jalan setapak di lingkungan permukiman sudah dapat dikerjakan sendiri secara swadaya.

Berdasarkan perubahan dan perkembangan kebudayaan tersebut, maka fungsi kebudayaan dapat digolongkan menjadi dua, yaitu (1) kebudayaan sebagai tuntunan; dan (2) kebudayaan sebagai tontonan.

Kebudayaan yang berfungsi sebagai tuntunan adalah kebudayaan rohaniah berupa antara lain norma-norma, nilai-nilai kemasyarakatan, tata kelakuan, religi, kesenian yang mengandung unsur religi, filsafat, dan ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan.

Sedangkan kebudayaan yang dapat berfungsi sebagai tontonan adalah kebudayaan fisik baik yang lama maupun baru, seperti benda-benda peninggalan sejarah dan purbakala;  bangunan-bangunan baru berteknologi mutakhir; kesenian; adat-istiadat yang unik; dan lain-lain.

Penggolongan ini tidak bersifat mutlak. Bisa saja salah satu unsur kebudayaan berfungsi sebagai tuntunan sekaligus sebagai tontonan. Tarian yang merupakan rangkaian ritual keagamaan tertentu, pada dasarnya berfungsi sebagai tuntunan bagi penganutnya, namun karena keunikannya menarik untuk ditonton oleh orang di luar agama tersebut.

Apabila kebudayaan dapat dikemas dalam bentuk tuntunan sekaligus tontonan, mungkin citra instansi yang mengurusnya akan berubah dari sekadar “Dinas Pengeluaran” belaka. Di era otonomi daerah ini masing-masing Pemda leluasa menentukan sikap dalam pembentukan dinas-dinas daerah.

Sebagai perbandingan, daerah-daerah yang maju bidang kebudayaan, pendidikan, dan pariwisatanya, seperti DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Bali, sejak masa Orde Baru pun sudah membentuk Dinas Kebudayaan terpisah dari Dinas Pendidikan. Kalau Pemda ingin mewujudkan kebudayaan sebagai tuntunan sekaligus tontonan akan lebih sesuai bila dibentuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata!

Sungailiat, 17 Februari 2004.

Start blogging by creating a new post. You can edit or delete me by clicking under the comments. You can also customize your sidebar by dragging in elements from the top bar.
 

    Author

    Write something about yourself. No need to be fancy, just an overview.

    Archives

    May 2010

    Categories

    All